Bukan Review Film

 Aku punya banyak waktu luang setelah huru-hara sidang selesai. Adikku, yang berotak cina, melihatku sebagai sasaran marketing jualannya. Ia sedang mencoba menjadi reseller platform streaming langganan. Dengan memelas dan berkata tidak ada yang membeli darinya, akhirnya aku beli langganan di seller otak cina itu. 

"Kamu pasti gabut, kan. Sudah saatnya kamu nonton film, maraton anime." Adikku tersenyum senang karena berhasil mendapatkan customer. Aku? Aku sebenarnya tidak tahu mau menonton apa.

Malam ini, setelah makan sambil menonton asal-usul caviar, aku baru ingat kalau aku punya langganan streaming. Tidak ada kerjaan lain, aku menelusuri film apa saja yang sekiranya akan menarik. Dari sekian banyak judul, aku menemukan satu.  Judulnya Pangku.

Dari covernya, aku tertarik pada film lokal yang memiliki nuansa seperti ini. Agak sulit dijelaskan, tapi rasanya seperti 'wah Indonesia banget' di mataku. Genre slice of life ini sedikit membuatku was-was karena aku sedang tidak minat disuguhi scene dewasa. Tapi ternyata sepanjang menonton film ini, tidak ada adegan seperti itu yang ditampilkan secara terang-terangan. Aku lega.

Pembawaan ceritanya bagus. Aku suka alurnya yang pelan, terkesan damai, tapi membawa cerita yang cukup berat. Di pertengahan cerita, ketika tokoh utama bertemu seorang laki-laki, aku berpikir bahwa ternyata masih ada cinta dan kebaikan di tempat seperti itu. Tapi kemudian aku curiga. Dengan latar film seperti ini, apakah akan tamat dengan damai begitu saja?

Ternyata endingnya klise. KLISE. Laki-laki itu sudah punya istri yang kerja di Arab! Ckckck dasar lelaki. 

Tapi fokus film ini bukan disana. Film Pangku lebih memperlihatkan perjuangan seorang ibu tunggal yang merawat anaknya. Secara keseluruhan, aku suka filmnya dan lumayan membuatku bengong sebentar setelah filmnya tamat. 

Ada rekomendasi film Netflix? :D 

0 komentar:

Posting Komentar