"Tunggu sebentar lagi, ya. Besok kita ambil notebook dan buku sketsamu. Sekarang kamu cerita dulu ke orang yang paling kamu percaya."
Terang datang sambil membawa sekotak martabak manis. Dia tahu aku belum makan dan makanan manis selalu menjadi penenang yang menyenangkan. Aku menatapnya meletakkan martabak di meja dan duduk di depanku sambil tersenyum.
Aku mengernyitkan alis melihatnya. Untuk orang yang berkata tidak ingin berada lama-lama di dunia, ia sangat positif. Terang membuat gestur 'hmm?' sambil mengendikkan bahu dan memiringkan sedikit kepalanya. Masih dengan senyum yang menempel.
"Minumnya?" Tanyaku.
Terang menepuk dahinya, "oiya, aku lupa! Tenang, kita selalu punya warung madura sebagai solusi."
Memang benar, tidak jauh dari tempat kami, ada warung madura yang benderang lampunya tampak mencolok. Terang bangkit dari kursi, berkata tolong tunggu sebentar, kemudian aku melihat punggungnya menjauh.
Aku merapatkan jaketku dan melihat sekeliling. Sebenarnya, pergi dimalam hari bukan hal yang biasa kulakukan. Tapi, Terang bersikeras memaksaku untuk pergi, katanya untuk udara yang lebih sehat. Nada suaranya di telefon seperti mengejek udara di kamarku terasa mematikan. Aku setuju untuk pergi saat ia menyuapku dengan berkata akan membawa makanan.
Lampu toko masih menyala. Biasanya sudah tidak ada pelanggan datang lagi saat mendekati jam tutup toko. Terang tetap membiarkan lampu toko menyala, agar tempat duduk kami yang di depan toko ini memiliki pencahayaan yang cukup.
Terang datang sambil membawa dua botol air mineral. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan satu permen, "katanya tidak ada kembalian, aku dikasih permen. Buatmu, ya."
Aku menerima permen berbentuk dinosaurus itu dari tangannya. Tanpa mengatakan apapun, aku merobek bungkusnya dan memasukkan dinosurus oren itu ke dalam mulutku. Mengunyahnya pelan sambil melihat kendaraan yang sesekali lalu lalang. Padahal sekarang masih pukul delapan malam, tapi jalanan terlihat sepi. Mungkin karena sehabis hujan.
Terang membuka tutup botol air mineral dan menyodorkannya di depanku, "nih, minum. Aku tahu kamu pasti kurang air."
"Kata seseorang yang ingat beli makan tapi lupa beli minum."
Terang tertawa. Ia orang yang mudah tersenyum dan tertawa. Berada di dekatnya membuatku terlihat lebih suram dari aku yang biasanya. Tapi itu sesuai dengan namanya, Terang. Ia dulu pernah bercerita bahwa ayahnya memberinya nama itu karena ingin anaknya menjadi pemandu, penuntun, dan pemberi arahan.
Ia berdehem, "jadi, ada cerita apa hari ini?" Terang sedikit mencondongkan badannya ke arahku sambil memperlihatkan sorot mata antusias. Apapun cerita yang kubawa, ia selalu terlihat antusias.
Aku mengambil sepotong martabak dan memakannya dalam diam. Di kejauhan terdengar suara remaja tertawa terkikik-kikik. Bau hujan masih samar tercium saat angin berhembus. Ada genangan air di jalan, menampilkan refleksi lampu-lampu jalan. Sepertinya menuruti keinginan Terang tidak terlalu buruk.
"Sebenarnya bukan cerita yang berarti. Masih cerita yang sama. Apa kamu bosan kalau aku menceritakan hal yang sama berkali-kali?"
Terang memberi isyarat dengan jarinya, tolong tunggu sebentar, begitu, karena mulutnya terlihat penuh dengan satu gigitan besar martabak manis. Setelah menelan dan meneguk air, ia bangkit dari kursi dan permisi sebentar masuk ke dalam toko.
Aku melihatnya mengambil bunga dari lemari pendingin. Sebuah buket bunga yang sederhana dengan bunga pikok dan garbera putih. Terang bilang, stok bunga-bunga ini selalu banyak karena tinggi peminat. Tapi, kadang ada hari dimana ada bunga yang tersisa.
"Ini buatmu." Terang memberikan buket bunga itu padaku. Ia adalah satu-satunya orang yang memberikanku bunga—sisa dari toko, "aku hampir selalu memberimu bunga garbera atau pikok. Apa kamu bosan?"
Aku mengamati buket bunga yang sekarang ada di pangkuanku. Garbera dan pikok sebenarnya adalah dua bunga pertamaku yang kubeli sendiri. Dulu atau sekarang, aku tetap merasa mereka sederhana tapi cantik. Tentu saja aku tidak pernah bosan. Aku menggeleng sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan Terang.
"Kalau gitu, sama. Aku juga tidak pernah bosan dengar ceritamu. Walaupun ceritanya sama, tapi kondisimu berbeda. Kamu juga tidak ingin teringat, kan? Selama ini kamu juga terus berusaha. Jadi, kenapa aku harus bosan? Justru itu tanda kalau aku masih perlu menemani kamu."
Aku tidak bisa melihat matanya. Aku takut akan menangis jika berhadapan dengan matanya yang selalu terlihat baik. Terang selalu memiliki jawaban, tapi ia pasti menolak jika dipuji bijak.
Terang menyandarkan punggungnya pada kursi dan melihat ke langit, "aku tahu usahamu selama ini. Tapi aku tidak ada dihidupmu. Jadi hanya sebatas ini yang bisa kulakukan."