Semangat, 'Ren'

Aku dihadapkan dengan tiga tulisan. Tiga cerita berbeda. Rasanya otakku seperti bercabang jadi tiga. Sayangnya, ketiganya memiliki vibes yang sangat berbeda. Misalnya yang A rasanya asin, yang B manis, yang C bikin mutah. Tapi tetap merasa menyenangkan, kok. Mumet.

Awalnya aku melakukan ini bukan hanya untukku, tapi sekarang kayaknya orang yang bersangkutan jadi tidak penting-penting amat. Keberadaannya semakin kabur dikeseharianku dan ternyata aku masih bisa tidur nyenyak. Anehnya aku tidak merasa sedih. Mungkin hatiku sudah mati dan rupanya aku tidak menolak proses kematian itu. 

Aku hampir berpikir bahwa karyaku remeh dan siapa sih yang akan menyukainya? Nggak ada yang suka gambar animemu, nggak ada yang tertarik sama dunia puitis alay anak senjamu itu. Pikiran-pikiran seperti itu pernah dimasukkan di dalam kepalaku dan aku gobloknya pernah merasa apa aku berhenti saja, ya?

Ditengah krisis identitas, aku mengirim satu pesan ke temanku yang sama-sama hidup dari industri kreatif. Reva, apa menurutmu nulis itu hal remeh? Aku tanya, tiba-tiba, tanpa salam pembuka. Temanku mengirim jawaban cepat, "nggak lah, gila."

Jadi dengan satu jawaban itu, ia menyelamatkanku dari keputusan impulsif untuk berhenti. Kuharap keyakinan untuk terus berkarya akan selamanya hidup dalam diriku, terlepas ada dukungan atau tidak. Aku perlahan mulai membangun prinsip bahwa aku hanya akan menunjukkan karyaku pada orang yang tepat. 

Yang tahu bagaimana cara menghargai karyaku dan keberadaanku sendiri tanpa perlu banyak bicara tanpa pembuktian. 

Hehe

Ingat kan mini project yang kutulis sebelumnya?

Dalam rentang dua minggu, teman-teman. DUA MINGGU. Aku sudah menulis lebih dari dua belas ribu kata. Wah, yapper final boss is here. Itu baru awalnya saja. AWALNYA SAJA. Ternyata aku punya bakat untuk menjadi the next penulis naskah film cinta fitri (jk).

Aku senang dengan konsistensi yang berhasil kubangun. Setiap hari setelah magrib, aku akan duduk di depan laptop dan mulai menulis. Sayangnya, karena semuanya hasil dari tulisan sekali duduk, aku perlu mengedit banyak sekali hal sebelum memperlihatkan tulisan itu kepada orang lain. Sekali duduk aku biasanya menulis 500-700 kata. Setiap hari. 

Kalau beneran tamat, itu adalah suatu keajaiban. 

Aku punya kata-kata yang lumayan bagus, hasil dari gelud di kepalaku sendiri. Awalnya aku khawatir, takut cringe, dan segala hal pesimis lainnya. Kemudian, dengan tidak tahu diri, sisi lain dari diriku mengatakan hal-hal ini:

- Kamu emang perlu melewati masa cringe dalam berkarya biar tahu kalau kelak kamu bakal berkembang, karyamu bakal lebih bagus, dan yap karya cringe-mu justru salah satu batu loncatanmu.

- Jangan dulu mikir gimana karyamu keliatan sempurna. MIKIR AJA GIMANA BIKIN KARYAMU ADA. Setelah ada, baru poles sampai menurutmu oke. Yang penting ada dulu. 

- Berusaha keras terus gagal itu bukan masalah, loh, karena kita tetap belajar selama prosesnya. Yang masalah itu kalau menyerah duluan tanpa pernah mencoba memulai.

Aku bukan penulis buku self improvement. Kata-kata itu cuma lahir sebagai bentuk melawan sisi pesimis diri sendiri. Sengaja kutulis biar suatu saat kalau aku pesimis dan hilang ingatan akibat kapasitas memori hanya 2kb, aku masih punya tulisan ini yang bisa kubaca ulang (KALAU INGAT)

Di dunia yang makin gila dengan orang-orangnya yang makin aneh, semoga kita semua tetap berada di jalan yang baik. 

Mini Project

Aku punya banyak waktu luang sebelum tanggal wisuda. Daripada bengong, akhirnya aku memulai project pribadi. Menulis selama 30 hari. Aku menggunakan salah satu platform untuk memonitor progress-ku. 

Tujuan project ini sederhana. Agar aku kembali terbiasa menulis, karena belakangan ini aku merasa otakku agak beku saat berhadapan dengan tulis-menulis. Selain itu, tujuan lainnya adalah biar aku punya kegiatan berpikir. 

Aku meletakkan banyak effort walaupun ini hanya mini project. Sama-sama dilakukan, kenapa tidak dilakukan dengan serius? Kira-kira begitu. Aku menikmati sesi brainstorming ide, menambahkan detail-detail kecil, dan sisanya membiarkan diriku menulis sesuka hati.

Yang kubuat bukan cerpen. Aku (sekali lagi) mencoba membuat novel. Aku belum pernah menamatkan novel bikinanku sebelumnya. Tulusan-tulisan itu mangkrak dan aku pun sudah lupa alurnya. Kali ini, aku ingin mencobanya lagi. Kenapa novel? Karena kalau cerpen, ruang gerak berasa dibatasi. Di novel, cerita bisa berkembang sejauh mungkin. Kayak sinetron tv. 

Jika novel ini berhasil tamat, aku belum kepikiran apa langkah selanjutnya untuk karya ini. Kemungkinan akan kucetak sebagai arsip pribadi, sebuah pencapaian aku berhasil tamat menulis novel. Lalu setelah itu apa?

Apa yang bisa kulakukan dengan kemampuan menulis ini?

Sebenarnya aku lumayan jengah dengan isi pikiran sendiri. Aku kesal dengan diriku yang mulai menimbang dan menilai hal secara materialistis. Seperti, apakah aku bisa menghasilkan uang dengan menulis? Apakah aku bisa hidup dari karya-karyaku? Aku jengah dan agak lelah. Mungkin pemikiran itu mulai lahir seiring bertambahnya tatapan manusia yang menilaiku. 

Tapi, dulu, aku punya mimpi untuk bisa menerbitkan buku dan melihat namaku ada di rak-rak toko buku. Dulu, ternyata aku punya keberanian sebesar itu untuk bermimpi. Wah, masa muda. Saat aku bertambah usia, aku menyadari bahwa bermimpi pun perlu sebuah keberanian. Sekarang, menimbang faktor ini dan ono, aku merasa sulit sekali mencapai mimpi itu. Sebelum kembali bermimpi, aku lebih dulu memikirkan seberapa terjal dan panjang perjalanannya. Lalu hatiku menciut seperti permen kapas terkena air. 

Ada kalanya juga, saat aku selesai menulis, aku melihat tulisanku sambil berpikir: memangnya ada orang lain yang akan membaca ini dengan sungguh-sungguh? 

Sungguh-sungguh disini maksudku benar-benar membaca, menyelami kata, dan menghargai. Tidak membaca secara buru-buru atau membaca sebagai syarat karena kalian mengenalku. Tapi benar-benar membaca karena ingin. Agak susah menjelaskannya. Dasar manusia penuh idealisme.

Tapi, misalnya saja, aku benar-benar terjun di bidang ini (atau bidang kreatif lainnya), apakah orang-orang di sekitarku bisa menerima dan memahaminya? Bahwa aku kadang perlu waktu sendiri yang benar-benar sendiri untuk ruang berpikir. Perkara mudah, katamu? Tidak. Justru orang-orang yang berkata itu hal yang mudah, adalah orang-orang yang memberi sikap keberatan paling pertama saat itu terjadi. Aku hidup dengan banyak pengalaman tentang itu.

Aku tidak menyalahkan mereka walaupun aku selalu sudah memperingatkan diawal. Mereka hanya tidak siap dan tidak tahu bahwa yang mereka hadapi ternyata jauh lebih serius. 

Tapi, tolong percaya bahwa langkah apapun yang kuambil, setiap keputusan yang kubuat, tidak lahir semata-mata hanya untuk memikirkan diriku sendiri. Aku sudah difase mengerti bahwa hidupku bukan hanya tentang aku saja. Kehidupanku saling terpaut dengan kehidupan orang lain. 

Saatnya Mengomel

 Belakangan ini aku merasa agak eneg karena keseringan baca konten yang dibuat oleh AI. AI benar-benar merambah ke industri kreatif yang lebih luas, tak terkecuali sastra. Lalu, apa eksistensi dari membuat karya sastra kalau itu ditulis oleh AI? 

Aku kurang suka membaca tulisan yang dibuat oleh AI. Susunan kata, susunan kalimat, dan paragrafnya benar-benar aneh. Rasanya kalau aku membaca itu, aku jadi sedikit tambah bodoh. Susunan kata dibuat sepraktis mungkin dan aku merasa seperti sedang melihat video pendek. Otak rasanya langsung disuruh menerima tanpa perlu memproses.

Aku sedang lompat-lompat di beberapa platform menulis. Walaupun tidak semua, ada beberapa karya yang menulis novel menggunakan AI. Mereka menerbitkan karya untuk mendapat penghasilan, tapi memakai AI agar lebih praktis dan cepat dalam menghasilkan karya.

Oh, wow.

Jadi dalam ranah 'menulis novel pakai AI tapi pengen dapet cuan' ini, sastra bukan lagi dinilai sebagai seni, tetapi sebagai alat kapitalisme yang menghilangkan sisi kemanusiaan dalam sastra. Kira-kira begitu? 

Ditengah banyaknya penggunaan AI dalam pembuatan karya. aku tetap ingin membuat karya dengan tangan dan pikiranku sendiri. Prosesnya lebih lama, tapi aku selalu ingin membuat karya yang dapat sampai ke hati orang lain. 

Jadi, tolong beri aku semangat, ya :D 

Katak, Gagang Pintu, Ikan Pari

Aku mendadak memikirkan hal-hal aneh. Bukan kemauanku, hanya saja muncul tiba-tiba.

Aku teringat dongeng yang ceritanya seorang perempuan mencium katak lalu katak itu berubah menjadi pangeran. Aku lupa detail ceritanya, tapi ATAS ALASAN APA DIA MAU MENCIUM KATAK? Aku lalu membayangkan katak. Tubuh katak lembab dan berlendir, mereka selalu terlihat begitu. Walaupun di cerita ia akan berubah menjadi pangeran tampan, KATAK TETAP KATAK. Bagaimana jika terpapar bakteri atau virus saat berinteraksi langsung?

Jika dipikir lebih jauh lagi, mungkin pesan dari dongeng ini adalah tentang cinta yang tulus. Hal-hal yang berkata bahwa penampilan fisik tidak bisa mengalahkan kebaikan hati. Atau tentang bagaimana seseorang yang tulus mencintai akan tetap ada bersamamu meskipun keadaanmu sedang tidak baik-baik saja. Aku tahu, tapi menggunakan katak sepertinya agak... Ekstrim? 

Aku jadi teringat meme internet yang berkata, "Kalau aku jadi gagang pintu, apa kamu masih suka aku?" Anak muda, sebenarnya kejahatan apa yang sudah kau lakukan sampai dikutuk menjadi gagang pintu? Lebih parah dari menjadi ikan pari karena durhaka.