Meja Judi Bernama Kehidupan

Dihari ulang tahunku, hal pertama yang kulihat begitu membuka mata adalah... 

pantat Soi.

Soi sebenarnya punya banyak pilihan. Ia bisa tidur di sampingku, dekat kakiku, atau dimanapun di kasur ini, dengan pose yang lebih memanusiakan manusia. Tapi dengan penuh pertimbangan, Soi tidur di sebelah kepalaku dengan pose badan terbalik. Pantat di atas, kepala di bawah.

Aku akhirnya bangun karena merasa canggung. Kubiarkan Soi menjajah kasurku. Wajah tidurnya terlihat sangat lelah. Ia berhak mendapatkan kasur itu pagi hingga siang ini. 

Selebihnya hari berjalan seperti biasa. Sama seperti hari-hariku sebelumnya. Tidak ada sesuatu yang spesial, hanya umurku saja yang berubah. 

Listrik mati sekitar pukul sebelas siang, menyisakan hawa panas dan hasrat ingin memukul orang. Akhirnya dengan mengikuti kebiasaan Apu (kucing kedua), aku duduk di lantai kamar mandi yang kering sambil membaca buku. 

Aku sekarang mengerti kenapa makhluk yang tingkat kecerdasannya dibawah Soi itu senang nongkrong di kamar mandi.

Malam hari, aku menulis seperti biasa. Selesai tepat waktu sesuai target dan aku memiliki waktu luang sebelum hari berganti untuk menulis ini. Kebiasaan tiap tahun, menulis dihari ulang tahun.

Satu tahun yang berlalu dengan cepat. Tidak banyak pencapaian, hanya satu kewajiban sudah tuntas. Ada banyak keputusan-keputusan kecil yang kubuat, entah akan berefek apa nantinya. Salah satunya adalah mencoba serius menjadi penulis. 

Lagi-lagi aku berada di meja judi bernama kehidupan. 

Aku masih tidak tahu akan seberapa jauh aku bisa melangkah disini. Ada kalanya aku optimis, ada kalanya aku pesimis, ada kalanya aku hanya bisa berkata untuk mengikuti alur hidup saja. Pergolakan itu seperti ombak laut yang bergelung. Yang diterpa bukan tepi pantai, tapi kewarasanku. 

Ada berapa banyak orang yang berhasil sukses meraih mimpinya? Ada berapa orang yang benar-benar bisa hidup dari hobinya? Ada berapa orang yang hidup dari mimpinya?

Waktu aku duduk di bangku sekolah, aku pernah punya mimpi yang masih kugenggam sampai sekarang. Bisa menerbitkan buku dengan ilustrasiku sendiri di dalamnya. Aku masih menulis, aku masih menggambar. Tapi apakah langkahku bisa sampai kesana suatu hari nanti?

Memiliki mimpi sewaktu kecil berarti berandai tanpa batas. Memiliki mimpi diusiaku sekarang, berarti harus memiliki keberanian. Seseorang pasti punya keberanian yang besar jika ia punya mimpi. Itu yang kuyakini sekarang.

Aku mengibaratkan mimpi sebagai sebuah bunga dengan beberapa kelopaknya yang mekar. Realita adalah deru angin dan hujan badai. Kombinasi itu menggoyangkan kelopak-kelopak kecil itu. Jika lengah dan kehilangan pegangan, mungkin satu persatu kelopak itu lenyap dan akhirnya bunga itu mati.

Kelopak pertama rontok karena tuntutan keluarga. Kelopak kedua diam-diam menciut karena menyadari ada banyak orang yang jauh lebih berbakat. Kelopak ketiga hangus karena isi dompet tidak bisa penuh hanya bermodal mimpi. Kelopak keempat, bahkan kelima, hilang begitu saja setelah menyaksikan yang lainnya mati.

Tapi jika bungaku akhirnya mati, aku masih akan menulis. Aku memang merasa frustasi karena jalan yang kupilih susah. Tapi aku juga merasa tidak hidup jika aku berhenti berkarya. 

Nah, jadi begitu bincang-bincang dihari ulang tahunku. Selamat ulang tahun.

 Aku sedang makan martabak manis dan minum kopi ketika tanpa kusadari ada bulan menyembul dari balik gorden jendelaku. Cantik, seperti biasa. Jika seluruh dunia beserta manusianya berubah karena ini itu, kurasa hal yang tetap sama adalah temaram sinar bulan. 

Bulan hari ini adalah bulan yang sama seperti yang kulihat tahun-tahun lalu. 


Timun Suri Ternyata Bukan Seleraku

Aku termenung di depan tulisanku sendiri sambil memijit dahi yang mulai nyut-nyutan. Tulisan ini seharusnya punya genre romansa. Tapi setelah delapan belas ribu kata kutulis, aku baca ulang, dan menanyakan pertanyaan untuk diriku sendiri. Romansanya mana?

Aku memang berencana menulis novel slow pace, tapi ini kayaknya.. Gimana ya bilangnya. Tidak terlihat seperti akan ada percikan romansa di dalamnya, jika bisa kubilang. Setelah kutelusuri cerpen-cerpenku yang lain, aku semakin termenung. Ada satu cerpen romansa tapi tragedi. 

Aku bangkit dari kursi dan menelusuri deretan novel di rak bukuku. Ternyata kebanyakan novel surealism. Aku geleng-geleng kepala saat menempatkan aku yang sekarang sebagai orang ketiga dan mengomentasi diriku dimasa lalu yang membeli novel. Tidak heran kamu diberi gelar manusia nyentrik dikeluarga.

Ternyata susah bagiku untuk menulis genre romansa. Waduh. Padahal aku tidak kekurangan asupan cinta, tapi kenapa aku tidak bisa menjelaskannya lewat tulisan? Cinta ini.. Kadang-kadang tak ada logika.

Aku baca ulang cerpen-cerpen lamaku yang lebih terasa seperti ditulis oleh orang depresi. Tapi aku tidak depresi, menurut kepercayaanku pribadi, walaupun tingkahku kadang seperti sapi lepas. Dihadapkan dengan karya lamaku, aku mencibir dalam hati. Kamu mikir apa sih waktu nulis itu?

Tapi walaupun terkesan gila dan bikin ngelus dada, aku merasa jiwaku ada disana. Ih, apa sih gaya banget sok puitis. Suatu saat kalian akan mengerti tentang bagaimana menghasilkan sesuatu yang dibuat dengan hati. Jika saat itu tiba, kayaknya bakal paham sama kalimatku barusan tentang jiwa. Rasanya beda. Ada nyes-nyesnya, gitu. 

Ngomong-ngomong, ini memang tidak ada kaitannya dengan paragraf-paragraf sebelumnya, tapi kakakku hamil. Ameizing. Mungkin karena hormon atau hal yang lain, dia berubah menjadi lebih melankolis. Sebagai orang yang terbiasa hidup mandiri dan apa-apa diusahain sendiri, aku berjuang setengah mati—tapi tidak berdarah-darah— untuk meletakkan rasa empati untuknya yang sedang menye-menye. Aku kesal tapi tidak tega memperlihatkan sisi kesalku. 

Sepertinya ini akan jadi pelajaran bagus untukku juga. Porsi berjuang orang beda-beda. Mungkin yang kuanggap kurang usaha bisa jadi usaha paling keras bagi mereka. Dan bisa jadi, di mata mereka, usahaku dinilai sebagai tryhard yang patut diberi pertanyaan 'ngapain sih?'. Bisa jadi lagi, di mata orang lain, usahaku hanya sebesar serbuk ketombe.

Ini mataku. Mata kiri mataku. Mata kanan mataku. MATA-MATA!

Lalu apa isi dan tujuan tulisan ini? Kayaknya nggak ada. Aku cuma mau bilang kalau nulis romansa itu ternyata susah dan kakakku hamil. Kaitannya apa? Ini 🪝 kaitkan sendiri sesuai selera. Mancing mania..

Hidup itu keras, tapi jangan resing.

Semangat, 'Ren'

Aku dihadapkan dengan tiga tulisan. Tiga cerita berbeda. Rasanya otakku seperti bercabang jadi tiga. Sayangnya, ketiganya memiliki vibes yang sangat berbeda. Misalnya yang A rasanya asin, yang B manis, yang C bikin mutah. Tapi tetap merasa menyenangkan, kok. Mumet.

Awalnya aku melakukan ini bukan hanya untukku, tapi sekarang kayaknya orang yang bersangkutan jadi tidak penting-penting amat. Keberadaannya semakin kabur dikeseharianku dan ternyata aku masih bisa tidur nyenyak. Anehnya aku tidak merasa sedih. Mungkin hatiku sudah mati dan rupanya aku tidak menolak proses kematian itu. 

Aku hampir berpikir bahwa karyaku remeh dan siapa sih yang akan menyukainya? Nggak ada yang suka gambar animemu, nggak ada yang tertarik sama dunia puitis alay anak senjamu itu. Pikiran-pikiran seperti itu pernah dimasukkan di dalam kepalaku dan aku gobloknya pernah merasa apa aku berhenti saja, ya?

Ditengah krisis identitas, aku mengirim satu pesan ke temanku yang sama-sama hidup dari industri kreatif. Reva, apa menurutmu nulis itu hal remeh? Aku tanya, tiba-tiba, tanpa salam pembuka. Temanku mengirim jawaban cepat, "nggak lah, gila."

Jadi dengan satu jawaban itu, ia menyelamatkanku dari keputusan impulsif untuk berhenti. Kuharap keyakinan untuk terus berkarya akan selamanya hidup dalam diriku, terlepas ada dukungan atau tidak. Aku perlahan mulai membangun prinsip bahwa aku hanya akan menunjukkan karyaku pada orang yang tepat. 

Yang tahu bagaimana cara menghargai karyaku dan keberadaanku sendiri tanpa perlu banyak bicara tanpa pembuktian. 

Hehe

Ingat kan mini project yang kutulis sebelumnya?

Dalam rentang dua minggu, teman-teman. DUA MINGGU. Aku sudah menulis lebih dari dua belas ribu kata. Wah, yapper final boss is here. Itu baru awalnya saja. AWALNYA SAJA. Ternyata aku punya bakat untuk menjadi the next penulis naskah film cinta fitri (jk).

Aku senang dengan konsistensi yang berhasil kubangun. Setiap hari setelah magrib, aku akan duduk di depan laptop dan mulai menulis. Sayangnya, karena semuanya hasil dari tulisan sekali duduk, aku perlu mengedit banyak sekali hal sebelum memperlihatkan tulisan itu kepada orang lain. Sekali duduk aku biasanya menulis 500-700 kata. Setiap hari. 

Kalau beneran tamat, itu adalah suatu keajaiban. 

Aku punya kata-kata yang lumayan bagus, hasil dari gelud di kepalaku sendiri. Awalnya aku khawatir, takut cringe, dan segala hal pesimis lainnya. Kemudian, dengan tidak tahu diri, sisi lain dari diriku mengatakan hal-hal ini:

- Kamu emang perlu melewati masa cringe dalam berkarya biar tahu kalau kelak kamu bakal berkembang, karyamu bakal lebih bagus, dan yap karya cringe-mu justru salah satu batu loncatanmu.

- Jangan dulu mikir gimana karyamu keliatan sempurna. MIKIR AJA GIMANA BIKIN KARYAMU ADA. Setelah ada, baru poles sampai menurutmu oke. Yang penting ada dulu. 

- Berusaha keras terus gagal itu bukan masalah, loh, karena kita tetap belajar selama prosesnya. Yang masalah itu kalau menyerah duluan tanpa pernah mencoba memulai.

Aku bukan penulis buku self improvement. Kata-kata itu cuma lahir sebagai bentuk melawan sisi pesimis diri sendiri. Sengaja kutulis biar suatu saat kalau aku pesimis dan hilang ingatan akibat kapasitas memori hanya 2kb, aku masih punya tulisan ini yang bisa kubaca ulang (KALAU INGAT)

Di dunia yang makin gila dengan orang-orangnya yang makin aneh, semoga kita semua tetap berada di jalan yang baik.