Mini Project

Aku punya banyak waktu luang sebelum tanggal wisuda. Daripada bengong, akhirnya aku memulai project pribadi. Menulis selama 30 hari. Aku menggunakan salah satu platform untuk memonitor progress-ku. 

Tujuan project ini sederhana. Agar aku kembali terbiasa menulis, karena belakangan ini aku merasa otakku agak beku saat berhadapan dengan tulis-menulis. Selain itu, tujuan lainnya adalah biar aku punya kegiatan berpikir. 

Aku meletakkan banyak effort walaupun ini hanya mini project. Sama-sama dilakukan, kenapa tidak dilakukan dengan serius? Kira-kira begitu. Aku menikmati sesi brainstorming ide, menambahkan detail-detail kecil, dan sisanya membiarkan diriku menulis sesuka hati.

Yang kubuat bukan cerpen. Aku (sekali lagi) mencoba membuat novel. Aku belum pernah menamatkan novel bikinanku sebelumnya. Tulusan-tulisan itu mangkrak dan aku pun sudah lupa alurnya. Kali ini, aku ingin mencobanya lagi. Kenapa novel? Karena kalau cerpen, ruang gerak berasa dibatasi. Di novel, cerita bisa berkembang sejauh mungkin. Kayak sinetron tv. 

Jika novel ini berhasil tamat, aku belum kepikiran apa langkah selanjutnya untuk karya ini. Kemungkinan akan kucetak sebagai arsip pribadi, sebuah pencapaian aku berhasil tamat menulis novel. Lalu setelah itu apa?

Apa yang bisa kulakukan dengan kemampuan menulis ini?

Sebenarnya aku lumayan jengah dengan isi pikiran sendiri. Aku kesal dengan diriku yang mulai menimbang dan menilai hal secara materialistis. Seperti, apakah aku bisa menghasilkan uang dengan menulis? Apakah aku bisa hidup dari karya-karyaku? Aku jengah dan agak lelah. Mungkin pemikiran itu mulai lahir seiring bertambahnya tatapan manusia yang menilaiku. 

Tapi, dulu, aku punya mimpi untuk bisa menerbitkan buku dan melihat namaku ada di rak-rak toko buku. Dulu, ternyata aku punya keberanian sebesar itu untuk bermimpi. Wah, masa muda. Saat aku bertambah usia, aku menyadari bahwa bermimpi pun perlu sebuah keberanian. Sekarang, menimbang faktor ini dan ono, aku merasa sulit sekali mencapai mimpi itu. Sebelum kembali bermimpi, aku lebih dulu memikirkan seberapa terjal dan panjang perjalanannya. Lalu hatiku menciut seperti permen kapas terkena air. 

Ada kalanya juga, saat aku selesai menulis, aku melihat tulisanku sambil berpikir: memangnya ada orang lain yang akan membaca ini dengan sungguh-sungguh? 

Sungguh-sungguh disini maksudku benar-benar membaca, menyelami kata, dan menghargai. Tidak membaca secara buru-buru atau membaca sebagai syarat karena kalian mengenalku. Tapi benar-benar membaca karena ingin. Agak susah menjelaskannya. Dasar manusia penuh idealisme.

Tapi, misalnya saja, aku benar-benar terjun di bidang ini (atau bidang kreatif lainnya), apakah orang-orang di sekitarku bisa menerima dan memahaminya? Bahwa aku kadang perlu waktu sendiri yang benar-benar sendiri untuk ruang berpikir. Perkara mudah, katamu? Tidak. Justru orang-orang yang berkata itu hal yang mudah, adalah orang-orang yang memberi sikap keberatan paling pertama saat itu terjadi. Aku hidup dengan banyak pengalaman tentang itu.

Aku tidak menyalahkan mereka walaupun aku selalu sudah memperingatkan diawal. Mereka hanya tidak siap dan tidak tahu bahwa yang mereka hadapi ternyata jauh lebih serius. 

Tapi, tolong percaya bahwa langkah apapun yang kuambil, setiap keputusan yang kubuat, tidak lahir semata-mata hanya untuk memikirkan diriku sendiri. Aku sudah difase mengerti bahwa hidupku bukan hanya tentang aku saja. Kehidupanku saling terpaut dengan kehidupan orang lain. 

Saatnya Mengomel

 Belakangan ini aku merasa agak eneg karena keseringan baca konten yang dibuat oleh AI. AI benar-benar merambah ke industri kreatif yang lebih luas, tak terkecuali sastra. Lalu, apa eksistensi dari membuat karya sastra kalau itu ditulis oleh AI? 

Aku kurang suka membaca tulisan yang dibuat oleh AI. Susunan kata, susunan kalimat, dan paragrafnya benar-benar aneh. Rasanya kalau aku membaca itu, aku jadi sedikit tambah bodoh. Susunan kata dibuat sepraktis mungkin dan aku merasa seperti sedang melihat video pendek. Otak rasanya langsung disuruh menerima tanpa perlu memproses.

Aku sedang lompat-lompat di beberapa platform menulis. Walaupun tidak semua, ada beberapa karya yang menulis novel menggunakan AI. Mereka menerbitkan karya untuk mendapat penghasilan, tapi memakai AI agar lebih praktis dan cepat dalam menghasilkan karya.

Oh, wow.

Jadi dalam ranah 'menulis novel pakai AI tapi pengen dapet cuan' ini, sastra bukan lagi dinilai sebagai seni, tetapi sebagai alat kapitalisme yang menghilangkan sisi kemanusiaan dalam sastra. Kira-kira begitu? 

Ditengah banyaknya penggunaan AI dalam pembuatan karya. aku tetap ingin membuat karya dengan tangan dan pikiranku sendiri. Prosesnya lebih lama, tapi aku selalu ingin membuat karya yang dapat sampai ke hati orang lain. 

Jadi, tolong beri aku semangat, ya :D 

Katak, Gagang Pintu, Ikan Pari

Aku mendadak memikirkan hal-hal aneh. Bukan kemauanku, hanya saja muncul tiba-tiba.

Aku teringat dongeng yang ceritanya seorang perempuan mencium katak lalu katak itu berubah menjadi pangeran. Aku lupa detail ceritanya, tapi ATAS ALASAN APA DIA MAU MENCIUM KATAK? Aku lalu membayangkan katak. Tubuh katak lembab dan berlendir, mereka selalu terlihat begitu. Walaupun di cerita ia akan berubah menjadi pangeran tampan, KATAK TETAP KATAK. Bagaimana jika terpapar bakteri atau virus saat berinteraksi langsung?

Jika dipikir lebih jauh lagi, mungkin pesan dari dongeng ini adalah tentang cinta yang tulus. Hal-hal yang berkata bahwa penampilan fisik tidak bisa mengalahkan kebaikan hati. Atau tentang bagaimana seseorang yang tulus mencintai akan tetap ada bersamamu meskipun keadaanmu sedang tidak baik-baik saja. Aku tahu, tapi menggunakan katak sepertinya agak... Ekstrim? 

Aku jadi teringat meme internet yang berkata, "Kalau aku jadi gagang pintu, apa kamu masih suka aku?" Anak muda, sebenarnya kejahatan apa yang sudah kau lakukan sampai dikutuk menjadi gagang pintu? Lebih parah dari menjadi ikan pari karena durhaka.

Namanya Terang

 "Tunggu sebentar lagi, ya. Besok kita ambil notebook dan buku sketsamu. Sekarang kamu cerita dulu ke orang yang paling kamu percaya." 

Terang datang sambil membawa sekotak martabak manis. Dia tahu aku belum makan dan makanan manis selalu menjadi penenang yang menyenangkan. Aku menatapnya meletakkan martabak di meja dan duduk di depanku sambil tersenyum. 

Aku mengernyitkan alis melihatnya. Untuk orang yang berkata tidak ingin berada lama-lama di dunia, ia sangat positif. Terang membuat gestur 'hmm?' sambil mengendikkan bahu dan memiringkan sedikit kepalanya. Masih dengan senyum yang menempel.

"Minumnya?" Tanyaku.

Terang menepuk dahinya, "oiya, aku lupa! Tenang, kita selalu punya warung madura sebagai solusi." 

Memang benar, tidak jauh dari tempat kami, ada warung madura yang benderang lampunya tampak mencolok. Terang bangkit dari kursi, berkata tolong tunggu sebentar, kemudian aku melihat punggungnya menjauh. 

Aku merapatkan jaketku dan melihat sekeliling. Sebenarnya, pergi dimalam hari bukan hal yang biasa kulakukan. Tapi, Terang bersikeras memaksaku untuk pergi, katanya untuk udara yang lebih sehat. Nada suaranya di telefon seperti mengejek udara di kamarku terasa mematikan. Aku setuju untuk pergi saat ia menyuapku dengan berkata akan membawa makanan.

Lampu toko masih menyala. Biasanya sudah tidak ada pelanggan datang lagi saat mendekati jam tutup toko. Terang tetap membiarkan lampu toko menyala, agar tempat duduk kami yang di depan toko ini memiliki pencahayaan yang cukup. 

Terang datang sambil membawa dua botol air mineral. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan satu permen, "katanya tidak ada kembalian, aku dikasih permen. Buatmu, ya."

Aku menerima permen berbentuk dinosaurus itu dari tangannya. Tanpa mengatakan apapun, aku merobek bungkusnya dan memasukkan dinosurus oren itu ke dalam mulutku. Mengunyahnya pelan sambil melihat kendaraan yang sesekali lalu lalang. Padahal sekarang masih pukul delapan malam, tapi jalanan terlihat sepi. Mungkin karena sehabis hujan.

Terang membuka tutup botol air mineral dan menyodorkannya di depanku, "nih, minum. Aku tahu kamu pasti kurang air."

"Kata seseorang yang ingat beli makan tapi lupa beli minum."

Terang tertawa. Ia orang yang mudah tersenyum dan tertawa. Berada di dekatnya membuatku terlihat lebih suram dari aku yang biasanya. Tapi itu sesuai dengan namanya, Terang. Ia dulu pernah bercerita bahwa ayahnya memberinya nama itu karena ingin anaknya menjadi pemandu, penuntun, dan pemberi arahan. 

Ia berdehem, "jadi, ada cerita apa hari ini?" Terang sedikit mencondongkan badannya ke arahku sambil memperlihatkan sorot mata antusias. Apapun cerita yang kubawa, ia selalu terlihat antusias. 

Aku mengambil sepotong martabak dan memakannya dalam diam. Di kejauhan terdengar suara remaja tertawa terkikik-kikik. Bau hujan masih samar tercium saat angin berhembus. Ada genangan air di jalan, menampilkan refleksi lampu-lampu jalan. Sepertinya menuruti keinginan Terang tidak terlalu buruk.

"Sebenarnya bukan cerita yang berarti. Masih cerita yang sama. Apa kamu bosan kalau aku menceritakan hal yang sama berkali-kali?" 

Terang memberi isyarat dengan jarinya, tolong tunggu sebentar, begitu, karena mulutnya terlihat penuh dengan satu gigitan besar martabak manis. Setelah menelan dan meneguk air, ia bangkit dari kursi dan permisi sebentar masuk ke dalam toko.

Aku melihatnya mengambil bunga dari lemari pendingin. Sebuah buket bunga yang sederhana dengan bunga pikok dan garbera putih. Terang bilang, stok bunga-bunga ini selalu banyak karena tinggi peminat. Tapi, kadang ada hari dimana ada bunga yang tersisa. 

"Ini buatmu." Terang memberikan buket bunga itu padaku. Ia adalah satu-satunya orang yang memberikanku bunga—sisa dari toko, "aku hampir selalu memberimu bunga garbera atau pikok. Apa kamu bosan?"

Aku mengamati buket bunga yang sekarang ada di pangkuanku. Garbera dan pikok sebenarnya adalah dua bunga pertamaku yang kubeli sendiri. Dulu atau sekarang, aku tetap merasa mereka sederhana tapi cantik. Tentu saja aku tidak pernah bosan. Aku menggeleng sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan Terang.

"Kalau gitu, sama. Aku juga tidak pernah bosan dengar ceritamu. Walaupun ceritanya sama, tapi kondisimu berbeda. Kamu juga tidak ingin teringat, kan? Selama ini kamu juga terus berusaha. Jadi, kenapa aku harus bosan? Justru itu tanda kalau aku masih perlu menemani kamu." 

Aku tidak bisa melihat matanya. Aku takut akan menangis jika berhadapan dengan matanya yang selalu terlihat baik. Terang selalu memiliki jawaban, tapi ia pasti menolak jika dipuji bijak. 

Terang menyandarkan punggungnya pada kursi dan melihat ke langit, "aku tahu usahamu selama ini. Tapi aku tidak ada dihidupmu. Jadi hanya sebatas ini yang bisa kulakukan."

Aku Adalah Orang yang Berkali-kali Diselamatkan Oleh Lagu

Belum lama ini, aku menemukan tukang cover lagu yang menarik. Megatera Zero, begitu nama youtube channel-nya. Aku menemukannya saat tidak bisa tidur dan memutuskan memutar lagu acak di youtube. Dokter bilang, saat aku susah tidur, jangan bermain ponsel dan lebih baik aku gulung-gulung saja. Maka, untuk menghilangkan sepi, aku memutar lagu. 

Algoritma youtube mengarahkanku pada salah satu cover Megatera. Ia menyanyikan lagu milik Iori Kanzaki yang berjudul Kokuhaku. Aku bukan pendengar Iori Kanzaki, jadi itu pertama kalinya aku mendengar lagu itu. Awalnya kukira itu lagu yang biasa saja, tapi saat masuk reff, aku langsung terbangun dan penasaran.

Aku tidak mengerti arti lagunya. Aku sepenuhnya tertarik dengan melodi dan bagaimana cara Megatera menyanyikannya. Ia bernyanyi dengan begitu berani, terdengar sepenuh hati, seperti suara yang jujur. Aku ingin bisa bernyanyi seperti itu.

Benar, aku adalah tipe orang yang mudah tergerak karena lagu, film, dan karya seni. Aku harap selamanya hatiku ada disana.

Aku menemukan lagu lain yang menarik di channel miliknya. Judulnya Asa o Nomu. Aku tahu lagu ini karena Wind pernah menyanyikannya dan aku jadi belajar lagunya karena tertarik saat mendengar Wind. Mendengar versi Megatera membuatku ingin menangis. Entah karena apa.