Saatnya Mengomel

 Belakangan ini aku merasa agak eneg karena keseringan baca konten yang dibuat oleh AI. AI benar-benar merambah ke industri kreatif yang lebih luas, tak terkecuali sastra. Lalu, apa eksistensi dari membuat karya sastra kalau itu ditulis oleh AI? 

Aku kurang suka membaca tulisan yang dibuat oleh AI. Susunan kata, susunan kalimat, dan paragrafnya benar-benar aneh. Rasanya kalau aku membaca itu, aku jadi sedikit tambah bodoh. Susunan kata dibuat sepraktis mungkin dan aku merasa seperti sedang melihat video pendek. Otak rasanya langsung disuruh menerima tanpa perlu memproses.

Aku sedang lompat-lompat di beberapa platform menulis. Walaupun tidak semua, ada beberapa karya yang menulis novel menggunakan AI. Mereka menerbitkan karya untuk mendapat penghasilan, tapi memakai AI agar lebih praktis dan cepat dalam menghasilkan karya.

Oh, wow.

Jadi dalam ranah 'menulis novel pakai AI tapi pengen dapet cuan' ini, sastra bukan lagi dinilai sebagai seni, tetapi sebagai alat kapitalisme yang menghilangkan sisi kemanusiaan dalam sastra. Kira-kira begitu? 

Ditengah banyaknya penggunaan AI dalam pembuatan karya. aku tetap ingin membuat karya dengan tangan dan pikiranku sendiri. Prosesnya lebih lama, tapi aku selalu ingin membuat karya yang dapat sampai ke hati orang lain. 

Jadi, tolong beri aku semangat, ya :D 

0 komentar:

Posting Komentar