19.12

Aku kembali menulis di buku. Alasan pertamanya adalah aku tidak ingin terlihat menyedihkan dan menebar hal negatif di blog. Tapi semakin kesini, aku merasa lebih nyaman di buku. Apa, ya, merasa lebih bebas? Disana, benar-benar hanya ada aku dan tidak ada yang membacanya selain aku. Tulisanku dibebaskan dari struktur kepenulisan, sesukaku, dan aku juga tidak peduli jika tiap paragraf tidak nyambung. 

Tulisan tanganku yang sulit dibaca itu ternyata bisa menyampaikan emosi lebih baik daripada ketikan di keyboard laptop. Goresan tanganku ikut mewakili apa yang sedang kurasakan. Ketika aku membaca tulisan-tulisan lama disana, aku merasa diriku saat itu benar-benar jujur dan apa adanya. Aku tidak merasa menyedihkan seperti saat aku membaca ulang tulisan-tulisanku di blog, tapi aku merasa seperti sedang berbicara dengan diriku sendiri berkali-kali. 

Sepertinya memang ada sedikit penyesalan.

Aku menyesal membiarkan diriku terlalu banyak bicara. Segalanya lebih mudah saat aku menyimpannya sendiri seperti tahun-tahun sebelumnya. Bagiku, mengutarakan isi pikiran kepada orang lain rasanya melelahkan. Aku harus menyesuaikan diri, mengatur bagaimana penyampaiannya bisa sampai dan dipahami. Tapi jika pada akhirnya tidak didengar, aku merasa lebih lelah. Untuk apa bicara kalau begitu? Bukannya lebih baik diam jika bicara pun tidak ada hasilnya?

Aku mulai menyesali diriku yang berubah menjadi banyak omong.

Semakin aku banyak memberi penjelasan yang sama berkali-kali, semakin aku merasa aku tidak ada harganya. Aku merasa seperti orang yang banyak omong tapi isinya kosong. Seperti orang bodoh yang mulutnya dimana-mana. 

Untuk apa aku disuruh bicara tapi akhirnya tidak ada hasilnya? Bukankah lebih baik aku diam? Jika aku diam, aku tidak harus kelelahan menyampaikan sesuatu. Aku juga tidak harus menaruh harap ada hasil dari aku bicara. Jika aku diam, aku hanya berkompromi dengan aku, pikiran dan perasaanku. 

Aku mulai membenci diriku yang sok paling vokal.

Setelah ini, aku ingin kembali ke diriku yang lama. Aku tidak ingin banyak bicara lagi. Aku ingin menjadi 'aku' yang lebih banyak menulis alih-alih harus bicara langsung. Sepertinya orang-orang juga akan bersyukur atas itu, mereka tidak harus menghadapiku yang katanya tantrum itu. Mereka tidak harus berhadapan dengan omonganku.

Begitu, kan?

Tulisan di atas adalah hal yang aku inginkan, tapi aku tidak bisa hidup seperti itu selagi aku masih berada di tengah sekumpulan manusia. Mau tidak mau, senang tidak senang, aku tetap harus bicara. Jadi mari lakukan secukupnya saja. Aku yang harus tahu kapan harus diam jika pada titik tertentu tidak didengar. 

Mereka punya pilihan, mendengar atau tidak. Ternyata aku lupa kalau aku juga punya pilihan untuk berhenti.

0 komentar:

Posting Komentar