Timun Suri Ternyata Bukan Seleraku

Aku termenung di depan tulisanku sendiri sambil memijit dahi yang mulai nyut-nyutan. Tulisan ini seharusnya punya genre romansa. Tapi setelah delapan belas ribu kata kutulis, aku baca ulang, dan menanyakan pertanyaan untuk diriku sendiri. Romansanya mana?

Aku memang berencana menulis novel slow pace, tapi ini kayaknya.. Gimana ya bilangnya. Tidak terlihat seperti akan ada percikan romansa di dalamnya, jika bisa kubilang. Setelah kutelusuri cerpen-cerpenku yang lain, aku semakin termenung. Ada satu cerpen romansa tapi tragedi. 

Aku bangkit dari kursi dan menelusuri deretan novel di rak bukuku. Ternyata kebanyakan novel surealism. Aku geleng-geleng kepala saat menempatkan aku yang sekarang sebagai orang ketiga dan mengomentasi diriku dimasa lalu yang membeli novel. Tidak heran kamu diberi gelar manusia nyentrik dikeluarga.

Ternyata susah bagiku untuk menulis genre romansa. Waduh. Padahal aku tidak kekurangan asupan cinta, tapi kenapa aku tidak bisa menjelaskannya lewat tulisan? Cinta ini.. Kadang-kadang tak ada logika.

Aku baca ulang cerpen-cerpen lamaku yang lebih terasa seperti ditulis oleh orang depresi. Tapi aku tidak depresi, menurut kepercayaanku pribadi, walaupun tingkahku kadang seperti sapi lepas. Dihadapkan dengan karya lamaku, aku mencibir dalam hati. Kamu mikir apa sih waktu nulis itu?

Tapi walaupun terkesan gila dan bikin ngelus dada, aku merasa jiwaku ada disana. Ih, apa sih gaya banget sok puitis. Suatu saat kalian akan mengerti tentang bagaimana menghasilkan sesuatu yang dibuat dengan hati. Jika saat itu tiba, kayaknya bakal paham sama kalimatku barusan tentang jiwa. Rasanya beda. Ada nyes-nyesnya, gitu. 

Ngomong-ngomong, ini memang tidak ada kaitannya dengan paragraf-paragraf sebelumnya, tapi kakakku hamil. Ameizing. Mungkin karena hormon atau hal yang lain, dia berubah menjadi lebih melankolis. Sebagai orang yang terbiasa hidup mandiri dan apa-apa diusahain sendiri, aku berjuang setengah mati—tapi tidak berdarah-darah— untuk meletakkan rasa empati untuknya yang sedang menye-menye. Aku kesal tapi tidak tega memperlihatkan sisi kesalku. 

Sepertinya ini akan jadi pelajaran bagus untukku juga. Porsi berjuang orang beda-beda. Mungkin yang kuanggap kurang usaha bisa jadi usaha paling keras bagi mereka. Dan bisa jadi, di mata mereka, usahaku dinilai sebagai tryhard yang patut diberi pertanyaan 'ngapain sih?'. Bisa jadi lagi, di mata orang lain, usahaku hanya sebesar serbuk ketombe.

Ini mataku. Mata kiri mataku. Mata kanan mataku. MATA-MATA!

Lalu apa isi dan tujuan tulisan ini? Kayaknya nggak ada. Aku cuma mau bilang kalau nulis romansa itu ternyata susah dan kakakku hamil. Kaitannya apa? Ini 🪝 kaitkan sendiri sesuai selera. Mancing mania..

Hidup itu keras, tapi jangan resing.

0 komentar:

Posting Komentar