Aku dihadapkan dengan tiga tulisan. Tiga cerita berbeda. Rasanya otakku seperti bercabang jadi tiga. Sayangnya, ketiganya memiliki vibes yang sangat berbeda. Misalnya yang A rasanya asin, yang B manis, yang C bikin mutah. Tapi tetap merasa menyenangkan, kok. Mumet.
Awalnya aku melakukan ini bukan hanya untukku, tapi sekarang kayaknya orang yang bersangkutan jadi tidak penting-penting amat. Keberadaannya semakin kabur dikeseharianku dan ternyata aku masih bisa tidur nyenyak. Anehnya aku tidak merasa sedih. Mungkin hatiku sudah mati dan rupanya aku tidak menolak proses kematian itu.
Aku hampir berpikir bahwa karyaku remeh dan siapa sih yang akan menyukainya? Nggak ada yang suka gambar animemu, nggak ada yang tertarik sama dunia puitis alay anak senjamu itu. Pikiran-pikiran seperti itu pernah dimasukkan di dalam kepalaku dan aku gobloknya pernah merasa apa aku berhenti saja, ya?
Ditengah krisis identitas, aku mengirim satu pesan ke temanku yang sama-sama hidup dari industri kreatif. Reva, apa menurutmu nulis itu hal remeh? Aku tanya, tiba-tiba, tanpa salam pembuka. Temanku mengirim jawaban cepat, "nggak lah, gila."
Jadi dengan satu jawaban itu, ia menyelamatkanku dari keputusan impulsif untuk berhenti. Kuharap keyakinan untuk terus berkarya akan selamanya hidup dalam diriku, terlepas ada dukungan atau tidak. Aku perlahan mulai membangun prinsip bahwa aku hanya akan menunjukkan karyaku pada orang yang tepat.
Yang tahu bagaimana cara menghargai karyaku dan keberadaanku sendiri tanpa perlu banyak bicara tanpa pembuktian.
0 komentar:
Posting Komentar