3/1

Tanggal hari ini kalau ditulis rasanya jadi seperti bilangan pecahan satu per tiga, tapi aku menulisnya menjadi tiga per satu. Susunannya tanggal dulu baru bulan, karena aku tinggal disini dan aturannya seperti itu. Urutannya tanggal, bulan, tahun. 

Aku sekarang sepenuhnya sadar bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa diubah walaupun sudah diupayakan olehku. Pertikaian di dalam kepalaku seperti tidak ada gunanya. Segala upaya untuk memaafkan, kembali percaya, memberi kesempatan. Itu semua sama sekali tidak ada gunanya. Aku seperti mati dan hidup lagi tanpa ada artinya untuk apa aku rela dimatikan dan untuk apa aku rela dihidupkan kembali.

Bahwa kenyataannya, ada manusia yang sama sekali tidak bisa berubah sebanyak apapun kesempatan yang diberikan.

Entah karena aku lelah atau otakku semakin sakit, aku sama sekali tidak merasakan apa-apa. Ternyata tidak merasakan apa-apa jauh lebih buruk daripada marah atau kecewa. Aku betulan tidak merasakan apa-apa. Aku hanya mendadak kosong dan tidak ingin melakukan atau memikirkan apapun. Dalam diriku, perlahan aku merasa bahwa berbicara tidak ada artinya lagi.

Tidak ada lagi keinginan untuk marah. Aku hanya menatap gorden jendela selama beberapa saat kemudian memutuskan untuk menulis. Aku merasa sangat tolol karena selama ini banyak omong tapi..

Aku.. Ada sedikitnya merasa tidak berharga. Tapi aku meyakinkan diriku bahwa itu tidak benar. Hanya karena bertemu dengan orang yang tidak menghargai perasaanku dengan baik, bukan berarti aku menjadi tidak berharga.

Aku masih berharga, tapi tidak di dalam sepasang mata itu. 

Aku masih memiliki makna, tapi tidak di dalam diri itu. 

New Year, Everyone.

Aku lupa kapan tepatnya, tapi aku berhenti menaruh "happy" pada ucapan "happy new year". Alasannya sederhana seperti perasaanku yang sederhana dan biasa saja. Pergantian tahun bagiku sama seperti pergantian hari. Angka tahun bertambah satu, kemudian keseharianku berjalan seperti biasanya.

Aku punya imajinasi yang lumayan lucu bagiku, tentang representasi orang-orang yang merayakan malam pergantian tahun. Mereka seperti meletakkan terompet di samping tempat tidur. Bangun pukul dua belas teng, meniupnya, lalu kembali tidur. 

Sejujurnya aku tidak pernah membuat resolusi awal tahun, karena menurutku berubah kan tidak perlu menunggu ganti tahun? Tapi mendadak aku ingin mencoba sesuatu yang baru. Aku mengajak Zaq, sebagai sesama orang yang tidak pernah membuat resolusi, untuk membuat resolusi! Tidak banyak, kami hanya menetapkan satu resolusi saja.

Resolusiku hanya semoga aku bisa mengontrol anger issue. Aku tidak punya niatan membuat daftar panjang resolusi karena satu saja kurasa sudah... Sulit. Aku kan tidak bisa berubah menjadi kalem dalam satu malam. Prosesnya akan berat dan lama mengingat betapa rumitnya aku. Tapi aku tidak ingin terlalu lama dalam hal ini, makanya aku menetapkan target. Satu tahun. Jadilah, resolusi ✨

Orang-orang bilang untuk jangan memaksakan diri. Tapi dalam hal ini, aku akan memaksakan diri. Aku masih belum tahu apakah ini keputusan bagus atau tidak, namanya juga coba-coba. Kalau gagal, aku akan cari cara lain. Tidak ada yang tahu jalan mana yang berhasil jika tidak mencobanya :D 

Aku tidak ingin melakukan kilas balik seperti yang biasa kulakukan setiap menulis tentang tahun baru. Bukan tahun yang tenang untukku. Oh, tapi hal baiknya adalah dipenghujung tahun, aku bertemu Zaq. Banyak hal buruk,  tapi hal baik tetap ada. 

New year, everyone.

Night Night!

Belum lama ini aku membaca manga lain dari Inio Asano. Goodnight Punpun. Sama seperti Solanin, atmosfernya terasa dekat. Aku jadi merenungi diriku dan kehidupan yang melingkupiku. Hal-hal di sekitarku.

Ada satu karakter yang kusuka. Bukan dalam sisi visual, tapi bagaimana ia memandang dunia. Namanya Sachi Nanjou. Punpun, tokoh utama manga ini, berkata padanya bahwa Nanjou beruntung karena terlahir pintar dan cantik. Tapi Nanjou berkata bahwa ia yang memilih hidupnya seperti itu. Karena lelah diejek jelek dan bodoh, ia merombak habis wajahnya dengan operasi plastik dan belajar mati-matian. Ia memilih kehidupan yang ia inginkan.

Dibalik optimisme Nanjou tentang mimpi dan hidupnya, ia punya sisi 'iri' yang bisa kumengerti. Nanjou berkata pada Punpun bahwa Punpun beruntung. Ditengah kesedihan dan kesuraman hidup milik Punpun, masih ada orang yang menerima, menemani, dan mengulurkan tangan untuk membantu. Nanjou menangis karena sadar tidak semua orang bisa seberuntung Punpun. Aku entah kenapa mengerti dan setuju.

"Jangan biarkan orang-orang itu mengubahmu." Seseorang pernah berkata begitu padaku, tapi sayangnya ia sudah terlambat, kurasa?

Aku mengerti apa maksudnya. Ia bilang artinya jangan biarkan rasa sedih, kecewa, dikhianati, dibohongi oleh orang lain membuatku jadi hancur dan kehilangan diriku sendiri. Satu luka kecil tidak akan berdampak apa-apa, tapi jika itu semua menumpuk? Kurasa ada banyak luka kecil yang menumpuk di dalam hatiku. 

Aku kesulitan melihat dunia seperti caraku dulu melihatnya.

Aku rasanya ingin menyalahkan orang-orang. Aku ingin menuding mereka satu-satu dan berkata, "ini salah kalian," tapi sebelum mengacungkan telunjuk, aku merapatkan tanganku lagi dan menelan kalimat itu. Aku mulai menerima kenyataan bahwa orang-orang bisa menyakiti kita kapan saja, tapi mereka tidak punya tanggung jawab untuk menyembuhkannya.

Luka dalam diri kita adalah tanggung jawab dan kita sendiri yang harus bisa menanganinya.

Dan sayangnya dunia terlihat lebih ramah jika kita tidak penyakitan begini. Makanya aku mengerti apa yang dikatakan oleh Nanjou untuk Punpun. Aku punya rasa iri yang sama. Orang-orang lebih senang mengelilingi seseorang yang terang dan punya energi positif, bukan kebalikannya sepertiku.

Hey, tapi bukannya kalian yang membuatku jadi begini?

Lagi-lagi aku ingin menyalahkan mereka. 

Tapi aku sudah memutuskan untuk berhenti hidup dengan cara yang menyedihkan. Aku juga sudah berhenti berharap seseorang akan datang dan menyelamatku. Aku sudah memutuskan untuk hidup dengan lebih benar, entah akan seperti apa prosesnya nanti.

Aku yang sekarang memang terlihat suram dan sangat berkebalikan dengan diriku yang dulu. Tapi tidak apa-apa, aku akan menerimanya pelan-pelan dan hidup seperti ini sambil terus berusaha mencari cara. Aku tidak akan menyerah dengan diriku sendiri. Jika orang-orang meninggalkanku yang seperti ini, kurasa tidak apa-apa.

Jika mereka tidak bisa menerima gelapku, mereka tidak berhak melihat terangku.

Jika mereka berlaku jahat kepadaku, tidak apa-apa, masih banyak yang bisa memberiku kebaikan dan itu bukan dari mereka. 

Dunia itu luas, yang sempit ternyata diriku yang terperangkap dalam kesedihan. 

Dunia itu luas.

Ayo Semangat

 Hmm.

Dulu ada masanya aku ingin seseorang datang untuk menyelamatkanku. Entah dari apa. Tapi aku yang sekarang merasa keinginan masa laluku itu oon banget. Karena kenyataannya yang bisa mengubah nasib itu hanya aku dibarengi dengan kehendak Tuhan. Menggantungkan pertolongan atau harapan pada manusia ternyata hanya membuat kehampaan yang lebih besar.

Jadi sekarang aku memutuskan untuk berusaha cukup dengan diri sendiri dan hidup sebaik yang aku bisa.

Baru-baru ini aku menemukan trik yang berguna untuk mengatasi isi kepala yang berisik. Triknya, tutup mata, fokuskan pendengaran pada suara di sekitar dan atur pernapasan. Fokus pada suara yang ada di luar, bukan di dalam diri. Itu akan membuat pikiran teralihkan. Jika ruangan terlalu sepi, buat suara lain. Putar lagu, dengarkan sesuatu. 

Tenangkan diri. 

ARTEFAK: Kue Perubah Hati

 (Aku menemukan artefak bertanggal 19-09-2016. Aku akan mengajak kalian semua cringe dengan tulisanku sembilan tahun lalu. Ini murni fiksi.)

(HAHAHAHAHAHAHA. Aku tidak melakukan editing apa-apa. Malas. Tanda baca? Apa itu tanda baca?)

***

Zaq memang tau persis apa yag bisa membuat gadis itu merasa baikan.

Jingga masih menggenggam erat pundak Zaq, sambil menyenandungkan lagu kebangsaan mereka. Hanya mereka berdua yang tetap bersorak walau lagu itu sudah tidak berada pada jamannya lagi.

“Heh, udah sampe. Mau sampe kapan kamu megang-megang pundakku sambil nyanyi?”

Zaq menepuk-nepuk tangan kurus Jingga yang masih erat menempel pada pundak laki-laki jangkung itu. Jingga hanya melempar senyuman jenaka, mengacak-acak rambut Zaq yang berantakan karena angin, lalu melompat turun.

Sepeda Zaq tersandar sempurna pada pohon mangga di depan toko. Ini toko kue. Usaha kecil-kecilan milik Nenek Zaq. Sejam yang lalu, Jingga menarik lengannya. Mengajaknya untuk bersepeda keliling kota. Wajahnya kusut lengkap dengan bibir yang mengerucut. Marah ala Jingga memang selalu khas.

Lalu Zaq berkata dengan suara rendah, bahwa ia akan mengajaknya pergi ke toko kue Grand. Jingga tak pernah merasa bosan disini. Siapa sih yang akan bosan jika memakan kue-kue itu lengkap dengan cerita-cerita Grand tentang masa lalunya?

“Grand!”

Suara Jingga menggema memenuhi langit-langit toko. Grand muncul dari balik kasir dengan celemek warna pastel—hadiah ulangtahunnya dari Jingga—dan seulas senyum yang mengatakan ‘selamat datang’

Toko kecil ini memang terlihat sepi, tapi, saat hari-hari tertentu seperti natal, tahun baru, perayaan ulangtahun, atau hari-hari yang biasanya di tanggalan berawarna merah, toko ini mendadak ramai. Bagian dalam toko dibuat minimalis dengan rak-rak berisi kue yang berjajar apik di dekat kasir. Zaq yang mendesain ini.

“Jingga, anak cewek nggak boleh teriak-teriak kayak tarzan” Sebuah tangan membekap mulut Jingga dari belakang. Zaq tertawa renyah menertawakan usaha gadis itu untuk melepaskan tangannya.

Grand ikut terkekeh melihat polah mereka. Dua remaja berusia 16 tahun. Dulu mereka berdua hanya bocah yang tau bahwa dunia adalah taman bermain yang luas. Grand menggeleng-gelengkan kepala. Mereka sudah tumbuh sekarang.

Zaq mengelap telapak tangannya pada serbet yang tergeletak di atas meja, “Jangan digigit juga dong tanganku. Kalo laper jangan makan tangan orang. Ekstrem amat”

Jingga memeletkan lidahnya, “Peduli amat. Salah siapa tangan Zaq tiba-tiba ada di depan mulutku” Tawa Jingga pecah, “Makannya, jangan berani-berani sama Jingga. Jingga dilawan”

“Dasar cewek tarzan” Zaq melempar serbet ke arah Jingga dengan geram. Terlambat. Jingga sudah bersembunyi di balik punggung Grand sambil memasang wajah pura-pura takutnya.

Grand tersenyum. Toko kecil ini mulai diisi dengan keisengan Jingga dan gerutuan-gerutuan Zaq yang khas. Daripada duduk sendirian sambil menunggu kue mengembang di balik oven, lebih baik jika ramai seperti ini, kan.

“Hari ini kenapa?”

 Grand bertanya saat mereka sudah duduk mengelilingi meja dengan kue dan secangkir teh. Sesuatu yang sayang sekali jika dilewatkan. Dan Grand selalu tau, jika Jingga dan Zaq datang, pasti membawa cerita.

Zaq menunjuk ke arah Jingga dengan matanya. Tanya aja sama Jingga. Cewek itu kan emang dikit-dikit punya masalah. Sedangkan Jingga, sudah sibuk mengunyah kue sambil menatap jalanan sepi dari balik pintu toko.

Jingga menoleh, sadar jika dilihat, “Apa kamu liat-liat? Mau ngajak berantem?”

Cowok itu melongo. Hei, sejak kapan melihat orang malah di ajak berantem? Alis Zaq terangkat sebelah, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Malas. Dasar cewek tarzan.Giliran ada masalah dikit baru keliatan kalemnya.

Jingga meletakkan cangkir, lalu memulai ceritanya dengan sebuah tarikan napas yang panjang, berujung ‘fuuh’ pelan. Cerita yang menyenangkan akan berawalan dengan sorot matanya yang menyala, dan nada suara yang menggebu-gebu. Cerita yang menurutnya tidak menyenangkan hanya diawali dengan helaan napas panjang.

“Grand, Zaq, kalian berdua harus tau ini”

Zaq memutar bola matanya. Setengah tidak peduli. Setengahnya lagi malas. Palingan hanya masalah sepele seperti berangkat kesiangan karena mengurus rambut yang mengembang sempurna saat bangun tidur, terkunci di gerbang, dan disemprot habis-habisan dengan guru, atau yang paling parah, PR nya malah ketinggalan.

Sebaliknya, Grand tampak antusias seperti biasa. Grand pendengar yang baik. Tidak terkesan menggurui atau terlalu banyak memberi komentar. Grand sesekali terkekeh di sela-sela cerita, mengangguk-angguk, atau sekedar tersenyum. Baru setelah cerita selesai, Grand akan berkata hal yang sanggup menenangkan.

“Grand, Zaq, pernah nggak kalian ngerasain pengen deket terus sama orang lain? Perasaan seneng hanya karena liat senyumnya pas pagi, atau nggak sengaja memikirkan orang itu di sela-sela menghapal pelajaran?”

Zaq hampir menyemburkan teh yang baru saja ia sesap. Tunggu dulu, apa Jingga berkata tentang cinta? Cewek tarzan itu? Yang tiap hari bertingkah konyol dan suka sekali menepuk pundaknya dengan keras?

Grand sempat tertegun. Lalu tersenyum. Merasa itu hal yang wajar.

“Kesel juga kenapa bisa tiba-tiba kepikiran. Aneh, kan. Padahal aku nggak punya rencana bakal mikiran dia. Tapi, Grand, saat aku panik, kelimpungan gara-gara harus banyak belajar untuk olimpiade, tidur sehari hanya 3 jam, dan aku kadang frustasi kenapa hasilnya selalu begitu-begitu saja padahal aku sudah berusaha sekeras itu,

Kadang, pas liat senyumnya, aku mikir, ‘ternyata ada juga ya senyum kayak gini’ rasanya damai banget. Itu bahagiaku nomor 2. Bahagiaku nomor 1 adalah kalian berdua. Grand dan Zaq”

Grand terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. Bahagia bisa sesederhana itu. Arti bahagia ala Jingga sederhana sekali, kan. Grand mengurungkan niatnya untuk bertanya. Paling nanti Jingga akan mengatakannya sendiri.

“Aku? Bahagiamu? Kamu bahagia ya kalo tiap turun dari sepeda langsung mukul pundakku? Atau kamu bahagia gara-gara kalo ada pelajaran yang nggak kamu ngerti, kamu buru-buru berguru ke aku?”

Zaq mendengus sebal. Jingga menatapnya sebentar, lalu melanjutkan ceritanya lagi. Nanti, akan ia jelaskan.

“Aku suka nikmati waktu kayak gini. Bareng kalian. Ketawa bareng, kalo aku sedih juga selalu ada kalian yang jadi tempat cerita. Rasanya aku sudah nggak ngerasa frustasi lagi. Bebanku ilang entah kemana. Woosshhh. Aku pengen terus bareng sama Grand dan Zaq”

Zaq membuang muka saat Jingga menatapnya sekilas. Bisa juga ya, kata-kata seperti itu keluar dari mulut Jingga. Alasan kenapa Zaq bisa sedekat ini dengan Jingga adalah, karena sejak awal, cewek itu yang menarik-nariknya. Lalu, tiba-tiba saja mereka bisa berteman.

“Kita memang selalu bersama, kan? Seperti saat ini. Seperti yang Jingga bilang. Grand, kamu, dan Zaq. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau kamu frustasi, itu artinya kamu masih merasa belum cukup dan selalu berusaha lebih keras lagi. Lalu tentang manusia-dengan-senyum-damai-mu itu, Grand tak ingin berkata apa-apa. Biar kamu yang cari jawabannya sendiri”

*****

19 September 2016 17:13. Ditemani lagu Sleeping With Sirens-Iris. Niatnya mau mandi, tapi tiba-tiba kepikiran bikin ini, akhirnya balik lagi ke kamar sambil mengalungkan handuk. Keinget tadi pas pulang sekolah, aku makan di kantin bareng Rosa, Beno, Mentari, Rina, Vian. Bercerita banyak entah sampai mana. Lalu mikir kayaknya keren kalo Zaq juga ada disini.